tentang kita dan dunia

Ceritakan padaku sebuah mimpi

Seperempat abad

Siapa dan mengapa serta berikutnya

Judul, untuk kali ini menjadi hal terakhir yang saya pikirkan. Mungkin ini suatu pilihan yang kurang tepat. Tentu saja tak ada salahnya. Biarlah sekali ini saya bertindak sesuatu sesuai hati, pikiran, dan keinginan.

Ada dua hal penting yang saya temui di laman pada monitor komputer, ketika mencari kata kunci kejadian, peristiwa, sumatera barat, payakumbuh, tahun 1985. Pertama rangkaian peristiwa penting yang dimuat di laman mbm tempo. Kedua, mailing list makitam di yahoo yang merupakan salah satu wahana urang minang di dunia maya.

Lantas kenapa saya mencari kata kunci tersebut? Sederhana, namun berarti: bulan ketiga yang dimulai pada hari senin di tahun ini merupakan salah satu hal penting yang ada dalam kalender kehidupan saya.

Segala macam bentuk perasaan bercampur aduk, tak dominan namun mengkhawatirkan dan membutuhkan penyelesaian. Seperempat abad bukanlah waktu yang sedikit, untuk mengisi direktori sebuah perjalanan hidup.

Untuk waktu yang sekian lama itu, sudah sepantasnya seseorang memiliki sebuah kunci untuk memasuki kehidupan yang sebenarnya. Apalagi ketika saya mencari lagi di mesin pencari berlaba 1,48 miliar dollar AS pada tengah tahun lalu: google, “kata tokoh muda usia 25 tahun” yang muncul dan menurut saya juga paling penting yakni Nabi Muhammad SAW menikah dengan Siti Khadijah.

Ya benar. Usia saya 25 tahun pada tanggal 5 Maret ini. Namun, bukan soal pernikahan yang menjadi pokok utamanya. Akan tetapi yang lebih penting dari itu, menurut saya hingga tulisan ini dibuat adalah, menjawab sebuah pertanyaan: siapa saya?

Nama: Romi Mardela lahir di Payakumbuh, Selasa pukul 10.00 WIB. Sekarang sedang kuliah master pendidikan, yang dengan malunya saya menyebutkan, masih biaya orangtua. Sementara itu saya hanya mampu berusaha untuk makan tiga kali sehari ditambah sedikit belanja ini itu. Namun itu pun tak konsisten. Terkadang sering makan dengan cara yang kurang sehat untuk satu hingga tujuh hari, itu sudah hal lumragh saya rasa bagi orang yang sedang kekurangan. Setidaknya saya juga belajar bagaiaman orang-orang yang lebih kekurangan daripada saya namun mereka bisa bertahan hidup/ Biarlah hal ini menjadi romantika saya tentang cara bagaimana menikmati sebuah kehidupan nyata.

Setidaknya saya menyadari ada sedikit sekali kemajuan, bahwa saya malu ketika menyampaikan bahwa kuliah ini harus dibiayai lagi. Malu sebagai seorang pemuda yang lahir di Ranah Minang. Di mana seharusnya, pemuda di usia saya sudah berada di rantau dan memberikan sesuatu untuk orang di rumah, setidaknya satu kali setiaplebaran.

Lantas apa yang bisa saya perbuat ketika menyadari betapa besarnya malu ini? Banyak jawaban yang ingin saya berikan, namun yang pasti sebagai anak yang harus dan wajib berbakti, jawaban yang saya berikan pastinya “saya berusaha kuliah dengan sebaik-baiknya. Kalaupun tak sanggup lulus dengan pencapaian tertinggi seorang mahasiswa, minimal saya berada satu nilai di bawahnya. Tapi tentu saja pendidikan tidak selalu bicara tentang indeks prestasi, lebih dari itu bahwa pendidikan adalah bagaimana memanusiakan manusia. Dan itu artinya, pendidikan harus menjadikan saya sebagai seorang manusia seutuhnya.

Semua hanya tentang bagaimana kita menjalankan peran masing-masing dan bagaimana membuat peran kita berarti bagi orang-orang yang berada di sekitar kita, atau setidaknya dapat berarti bagi diri kita sendiri.

Keberartian ini yang bagi saya masih menjadi ukuran sebuah pencapaian. Memang tidak spesifik, karena lebih sering tidak dapat terukur. Alhasil saya pun tak pernah tahu sejauh apa pencapaian yang telah saya raih selama ini.

Ternyata, jawaban atas pertanyaan kepada diri sendiri tentang siapa saya, terhenti pada keberartian tersebut. Saya tak dapat melanjutkan lagi menjawab pertanyaan siapa saya. Antara ragu dan percaya, saya merasa bahwa keberartian tersebut belum tepat disebut sebagai pencapaian. Tapi apa daya, saya masih tetap saja mensanksikannya.

Biarlah, untuk sementara ini. Karena seperti saya sampaikan di atas, bahwa tulisan ini mempertanyakan eksistensi kita–sebuah bentuk istilah bagi orang-orang yang mempertanyakan tentang maknanya atau yang lebih tepat mempertanyakan jati dirinya.

Untuk itu, saya akan terus mempertanyakan siapa saya, hingga akhir tulisan ini, meskipun pada akhirnya hanya jawaban kebingungan yang akan saya dapatkan.

Selanjutnya, kita akan bicara tentang kematian. Bagaimana kematian menjadi sebuah ketakutakan besar atau sebaliknya menjadi sebuah kejadian yang didambakan.

Saya percaya bahwa hidup harus terus dijalani, ibarat kata bijak, layaknya kita akan hidup seribu tahun lagi, dan kita harus menjalani segala perintahNya layaknya kita akan meninggal dalam satu kejapan mata lagi.

Hah, ternyata untuk hal yang kedua, tentang menjalankan perintahNya, hanya terlintas dibenakku. Lebih sering lalai daripada dikerjakan. Baru kusadar betapa munafiknya diri ini. Ibarat mumbang, yang terlihat bagus dari bawah, ternyata setelah jatuh ke tanah baru terlihat kosong karena telah digerogoti tupai-tupai kelaparan yang meloncat dari satu batang kelapa ke batang lainnya.

Memang bukan salah kelapa, yang tak mungkin bisa melakukan apa-apa, untuk melarang tupai-tupai itu memakan buahnya. Tapi apakah saya juga harus membiarkan jiwa ini kosong dirasuki kemudian digerogoti layaknya buah kelapa itu, secara perlahan oleh setan-setan gila yang akan terus berkeliaran?

Saya punya kendali terhadap diri sendiri, saya dapat memerintah tubuh, jiwa, dan pikiran ini sekehendak hati. Lalu apa lagi, kenapa tak jua bisa untuk berlaku seperti mandor yang memerintah budak-budak. Atau seperti seorang kompeni yang memperlakukan orang rantai sekehendak hatinya. Tidak, kenapa saya belum juga sanggup terutama untuk merantai para setan itu?

Memang harus cepat, karena waktu tak pernah menunggu siapapun yang tertinggal dan yang terseok-seok di belakangnya. Saya tak mau lagi waktu yang lebih lama hanya untuk mengurusi bagaimana agar setan-setan ini tunduk, atau setidaknya terkecoh untuk waktu yang tepat. Saya harus bertindak.

Tapi sementara itu, ada satu lagi yang saya selalu lupa. Sebuah rencana yang teragendakan. Seharusnya saya telah dapat memetakan perjalanan hidup selama ini dan untuk masa yang akan datang. Kedengarannya sederhana dan remeh sekali. Tapi saya sadar, hal ini memiliki dampak luar bisa untuk sebuah hidup yang terencana. Dan sesuatu yang terencana, biasanya dapat diprediksi, dan tentu saja jika Yang Mahakuasa menghendaki. Itu artinya saya dapat menentukan berbagai keberhasilan yang ingin dicapai.

Namun demikian, ternyata saya juga masih takut untuk membuat rencana-rencana perjalanan hidup. Sebuah hal besar yang menurut saya, tidak semudah menekan tombol-tombol huruf di papan ketik ini. Perlu perenungan, ketenangan, dan pikiran jernih.

Hoho, ternyata setelah dipikir-pikir saya bisa menyiasati agenda hidup itu. Saya akan memulai secara perlahan untuk menulis daftar apa saja yang menurut saya penting bagi hidup ini. Hidup saya, pastinya.

Salah satu, dan hal pertama yang menjadi ‘PR’ dalam agenda itu nantinya adalah menangis dalam shalat malam. Suatu ketenangan dan kenikmatan jiwa yang luar biasa ketika saya dapat melakukannya. Selain itu, ibadah lainnya tentu juga luar biasa bisa mendatangkan ketenangan jiwa ini. Namun, tentu saya sadar, ketenangan ini baru berlaku ketika yang wajib telah terlaksana. Saya mencoba dan saya berusaha dan akan selalu berusaha. Untill the end of life!

Apalagi ya….?

Hmmm…. Belum ketemu, maka saya akan bahas hal lain. Ketika memikirkan agenda hidup yang lain itu, pikiran saya berkata, ternyata tulisan ini lebih terlihat sebagai sebuah kelahiran refleksi dari kehidupan orang yang mulai kekurangan umurnya. Karena rata-rata lama usia orang Indonesia hanya 60 tahun. Itu artinya, hanya tinggal 35 tahun sisa hidup saya di dunia, Insyaallah. Tapi jumlah ini belum dikurangi dengan sakit dan hari libur😀

Dari usia hidup 60 tahun itu, ada beberapa fase perkembangan yang dijalani manusia. Mulai dari tanah yang menjadi segumpal daging dan selanjutnya mendapatkan rumah diperut ibu sebelum menjerit menyaksikan dunia, hingga kembali menjadi tanah setelah dinikmati cacing dan ulat-ulat tanah.

Ini memang hanya fase perkembangan seonggok daging. Lalu, apakah akan dibiarkan saja, daging ini berjalan tanpa ada jiwa bersih yang mengendarainya? Tentu saja tidak mungkin. Untuk itu, saya butuh jiwa yang mengenal penciptanya dan tahu untuk apa jiwanya diciptakan. Ini yang tak bisa dibuat oleh manusia yang ingin membuat manusia-manusiaan ciptaannya sendiri. Lalu, bagaimana bisa membuat daging-daging yang berjalan ini dapat memiliki jiwa yang mengenal siapa dirinya.

Saya senang menulis dengan mempertanyakan kondisi atau apa yang saya rasakan. Karena dengan demikian, sedikit demi sedikit saya jadi tahu apa yang kurang dan yang masih banyak kurang dari diri ini. Hari ini saya tahu, bahwa saya masih kurang bisa menjadi orang yang selalu bersyukur.

Syukur nikmat menjadi agenda hidup saya selanjutnya. Sangat banyak yang lupa atau tak saya hiraukan untuk selalu disyukuri. Syukur yang paling penting, utama, dan prioritas adalah syukur karena bisa ikut hadir di dunia ini. Saya banyak mengeluhkan hal-hal kecil yang membuat saya terganggu terjadi di dunia ini. Terkadang membuat saya jengkel dan ingin lari atau berharap tak pernah ada di dunia ini. Betapa bodohnya pikiran itu. Andai saja saya ditakdirkan tak pernah dilahirkan, apakah saya mampu berharap ataupun bahkan untuk bisa berpikir bahwa saya tak pernah berharap untuk dapat dilahirkan? Sungguh membingungkan kalimat ini. Tapi lebih membingungkan lagi untuk bisa membuat kalimatnya. Namun bagaimanapun saya rasa tetap lebih membingungkan lagi orang yang tak ingin dilahirkan itu, karena untuk membuat kalimat betapa membingungkannya orang yang berharap tak pernah lahir itu, sungguh luar biasa membingungkannya.

Kita sudahi saja kalimat membingungkan tersebut, karena setelah saya telusuri munculnya pemikiran bingung tersebut, salah satu andilnya karena mendengar Tompi dan Paton menyanyikan lagu menghujam jantung ketika lirik durudududududu-nya. Maaf bukan maksud cemooh, hal ini hanya asumsi dalam dunia khayal saya saja😀

Saya lanjutkan syukur berikutnya. Syukur untuk hal yang sungguh luar biasa tapi tak pernah terlalu saya pikirkan ataupun terlalu dipikirkan: syukur kepada keduaorangtua.

Memiliki orang tua adalah hal yang menyenangkan. Saya rasa, maaf, untuk orang yang telah yatim, piatu, atau yatim piatu, yang selama ini merindukan hal-hal luar biasa itu. Tapi, saya, apakah harus menunggu mereka tiada untuk bisa merasakan kerinduan akan hal menyenangkan memiliki orangtua ini. Durhakalah saya jika hal ini terjadi, dan sungguh, saya tak pernah berharap bahkan terpikir pun tidak untuk menunggu hal itu terjadi.

Lagu Sinar Pahlawanku dari ST 12 yang ternyata kebetulan sedang saya dengar, membuat hati tambah teriris. Sinar, seorang perempuan kecil yang bekerja untuk ibunya menjadi inspirasi dalam lagu tersebut, membuat saya merasa kecil. Sangat kecil sekali. Saya menjadi tidak memiliki arti apapun di dunia ini jika dibandingkan dengan Sinar. Saya belum mampu memberikan apapun untuk kedua orangtuaku. Belum satupun, tak ada satupun hal yang saya lakukan yang dapat sekedar menyenangkan hati mereka.

Berkaca-kaca pandanganku saat ini. Ternyata saya sudah terlalu jauh dan begitu jauhnya dari syukur nikmat atas apa yang telah kedua orangtuaku berikan. Maafkan anakmu ini Ma, Pa. Maafkanlah.

Tak sanggup aku meneruskannya di sini. Hal serupa pernah saya tulis dalam prolog di skripsi saya dulu. Dan hal yang sama terjadi kembali hari ini sama seperti ketika saya membuat tulisan yang lebih dikenal sebagai halaman persembahan di skripsi dulu. Akan tetapi, cukuplah ini menjadi rahasia diri. Begitu juga dengan atas apa yang akan saya perbuat untuk menyatakan rasa syukur atas apa yang kedua orangtuaku berikan selama ini. Sungguh, ini akan benar-benar saya lakukan. Kalau saya lupa, setidaknya tulisan ini akan mengingatkannya lagi.

Saya sudahi untuk sementara menulis syukur ini untuk dilanjutkan kemudian. Sekarang, kembali lagi tentang daging-daging yang berjalan. Secara umum ada beberapa fase yang dilalui manusia dalam teori perkembangan: bayi (balita), anak-anak, remaja, dewasa, dan manula.

Manusia ketika umur 25 tahun ini disebut sebagai dewasa awal. Manusia dalam tahap dewasa awal ini sudah dapat berpikir logis, realistis, dalam semua pilihan yang datang pada setiap hela nafasnya. Karena, dewasa awal ini sudah melewati tahap remaja akhir yang mana fase tersebut merupakan tahap akhir dari pencarian jati diri dari seseorang. Ini yang kalau tidak salah hasil ingatan yang samar-samar dari pelajaran saya dulu. Oleh karena itu, tentu saja tidak seratus persen benar, dan yang pastinya masing-masing orang berbeda tergantung dari orang itu sendiri.

Yap, tepat sekali. Tergantung dari orang itu sendiri adalah kalimat kunci yang mesti saya ingat. Dengan demikian, sesuai dengan ulasan sebelumnya, saya yang harus mengendalikan: akan jadi apa saya nanti.

Tentu, pilihan yang paling sederhana adalah menjadi orang yang biasa-biasa yang menjalani fase tersebut sesuai dengan perjalanan waktu. Pilihan bijak. Tapi akan sangat bijak, jika pilihan itu sudah dipilih ketika berada dalam fase remaja atau sebelumnya. Karena pada fase tersebut, kita membutuhkan orang lain untuk selalu mengingatkan pada setiap yang akan dilakukan. Orang lain itu berasal dari setiap lingkungan kita berada. Selanjutnya, biasanya kita akan diarahkan berdasarkan kemampuan atau minat serta norma dan aturan yang ada. Namun pada intinya tetap sama: bagaimana menjadi orang baik.

Sementara itu, sangat tidak cocok sekali jika pilihan menjadi orang biasa-biasa itu muncul ketika saya telah berusia seperempat abad ini. Sudah sangat tua sekali jika pilihan seperti itu yang saya ambil. Saya harus jadi extraordinaryman. Menjadi orang yang luar biasa. Sebuah ambisius yang menurut saya normal bagi seorang pemuda yang memiliki gejolak hidup yang masih tinggi.

Agenda berikutnya: extraordinaryman. Semenjak saya mengenal organisasi penerbitan kampus yang luar biasa saya cintai, menjadi orang yang tidak biasa adalah suatu keinginan yang selalu membayangi setiap langkahku hingga kini. Luar biasa bukan berarti hanya sekedar bertindak di luar hal-hal normal. Akan tetapi bagaimana bisa menjadikan sesuatu yang biasa menjadi luar biasa, menjadikan sesuatu yang biasa menjadi lebih istimewa, menjadikan sesuatu yang sederhana menjadi lebih bermanfaat. Apapun itu, segala sesuatu yang memiliki tujuan akhir yang benar dan baik, merupakan satu paket perbuatan yang saya selalu inginkan sejak dulu.

Rasanya tidak salah, seseorang yang dilahirkan atas kebaikan pada akhirnya juga memilih untuk berbuat atas nama kebaikan. Saya berpikir, mungkin inilah yang menjadi fitrah yang dibawa setiap kelahiran manusia.

Jika demikian, lantas kenapa ada lawan dari kebaikan? Lawan dari kebaikan, atau di sini saya sebut sebagai kajahatan, hanyalah sebuah cobaan atas setiap peningkatan kebaikan yang dilakukan. Setiap kebaikan yang diperbuat, selain berhadiah pahala, juga mendapatkan bonus cobaan yakni kejahatan.

Saya juga bersyukur karena tidak terjebak pada kejahatan, atau setidaknya berlama-lama dalam sebuah kejahatan baik itu kejahatan besar atau bahkan kejahatan terkecil sekalipun. Setidaknya itu penilaian subyektif tentang posisi kejahatan dalam diri ini.

Jari-jari ini mulai sakit untuk terus menekan tombol papan ketik ini. Sebelum saya akhiri ketikan ini, hal lain yang juga menjadi penting adalah apa yang akan saya lakukan setelah hari Jumat, hari yang baik ini, hari di mana para malaikat ikut bersama umat manusia di dunia. Dan karena itu setiap orang mendambakan ia dapat meninggal, setidaknya di hari Jumat ini.

Saya sudah punya visi lainnya, selain dari visi sebelumnya. Visi yang muncul ketika saya menjelajah dunia melalui jendela kecil untuk sebuah dunia besar di jagat maya. Biarlah ini, juga menjadi rahasia. Namun yang pastinya, saya telah meniatkan visi tersebut untuk sebuah kebaikan, untuk sebuah perbuatan yang Insyaallah saya berharap dapat membawa suatu perubahan besar. Atau paling tidak perubahan atas cara pandang hidup saya sendiri.

Demikian
Salam
Romi Mardela

nb: tulisan ini untuk mengingatkan diri saya sendiri akan umur yang telah larut dan terus menguap dan untuk orang-orang yang hari ini dan hingga akhir nanti akan terus saya sayangi. Orang-orang yang telah sangat luar biasa dan akan menjadi daftar ketika “hari penghitungan kelak”, yang jika diizinkanNya saya akan mengatakan semua kebaikannya dan betapa orang-orang ini telah menjadi cahaya dalam diri saya selamanya.

Tulisan selanjutnya, adalah lampiran dua tulisan dari hasil pencarian yang telah saya sebutkan sebelumnya.

Peristiwa penting yang terjadi pada tahun 1985
Kumpulan peristiwa-peristiwa penting selama tahun 1985: peristiwa nasional dan internasional baik berupa bencana, kemajuan, kenangan manis, dan obituari.
Akhirnya, tahun 1985 harus kita lepaskan juga. Mungkin dengan napas lega, karena sebuah periode berat telah berlalu. Apakah 1985 akan menjadi mimpi buruk, karena begitu banyak bencana – bom, api, teror, gempa, dan kelaparan – telah mengotorinya? Ataukah akan menjadi kenangan manis, seperti sebuah medali kemenangan, yang sering dikeluarkan dan digosok mengkilat kembali? Rahmat dan bencana, atau madu dan racun, keduanya selalu singgah di tempat kita. Apakah 1986 akan serupa juga? Siapa tahu?

Setelah terputus selama 18 tahun, hubungan dagang langsung RI-RRC dibuka kembali. Ketua Umum Kadin Indonesia Sukamdani Gitosardjono mengunjungi Beijing, dan Ketua CCPIT Wang Yaoting datang ke Jakarta. Langkah awal normalisasi hubungan diplomatik? “Tidak,” bantah sejumlah pejabat Indonesia. RRC tampaknya mengharapkan itu.

Selama 75 jam, 30 Agustus silam, satelit Palapa B-1 bergeser dari orbitnya. Gambar televisi hilang dan komunikasi macet, terutama di Indonesia Timur, yang belum memiliki jaringan microwave. Usaha meluruskan posisinya, ternyata, mengurangi umur Palapa dua tahun, bukan dua bulan seperti dugaan semula.

Meski pada mulanya terasa alot, perintah untuk menahan “gajah” Nur Usman akhirnya dikeluarkan. Bekas pejabat Pertamina itu dituding mengotaki pembunuhan anak tirinya, Roy Bharya. Selama ia diadili, hakim sempat 13 kali menunda sidang, karena Nur “sakit” – sesuai dengan keterangan yang dikeluarkan dokter Rutan Salemba, Wunardi. Tapi, menurut tim dokter RSPAD dan RS Cipto, Nur cukup sehat untuk menghadiri sidang.

Ekonomi lesu, dan PHK pun tak terelakkan. Akibatnya, makin banyak penganggur bergentayangan. Cukup banyak yang ulet dan terjun ke sektor informal: menjadi pedagang kaki lima atau membuka bengkel motor.

“Bung Karno menerima komisi,” tulis buku pelajaran Sejarah Nasional Indonesia untuk SMP. Orang pun ramai. Lalu Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa, ide Almarhum Menteri P & K Nugroho Notosusanto, pun digabungkan lagi dengan Sejarah Indonesia. Mengapa kita heboh ketika yang dituding dan penuding telah tiada?

Pengusaha mengeluh mengenai berbelitnya prosedur impor dan ekspor barang di pelabuhan, yang menyebabkan biaya tinggi. Penyederhanaan meja Bea Cukai sudah dilakukan, tapi hasilnya nihil. Lalu, pada 1 Mei diturunkan Inpres No. 4 dan 5 1985, yang memangkas habis wewenang pemeriksaan oleh Bea Cukai. Pengusaha senang, tapi harga tetap membubung.

Harga minyak Minas mulai 1 Februari, turun dari US$ 29,53 jadi US$ 28,53 per barel. Penurunan itu, kata Menko Ekuin Ali Wardhana, hanya mengurangi devisa US$ 300 juta, dan menciutkan rencana penerimaan pajak Rp 325 milyar. Sas-sus devaluasi dibantah. Karena cadangan devisa, cukup kuat, sekitar US$ 10 milyar.

Untuk pertama kali, seorang jenderal purnawirawan yang memangku jabatan gubernur dikalahkan calon pendamping dalam pemungutan suara untuk memilih kepala daerah Riau. Ketidakpuasan dan protes memang bisa muncul dalam banyak cara.

Peranannya dalam melahirkan Orde Baru tak disangsikan. Toh perbedaan pendapat akhirnya membawa Letjen (Pur.) H.R. Dharsono ke kursi terdakwa. Ia dituduh melakukan tindakan subversif. Dalam sidang yang dibanjiri pengunjung, dengan sejumlah saksi penting seperti bekas Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin, Peristiwa Priok lebih banyak terkuak. Tatkala mendengar Jaksa menuntut hukuman 15 tahun penjara baginya, Dharsono tersenyum.

Setelah tercabik-cabik selama enam tahun, akhirnya berkat prakarsa petinggi hukum Ali Said, para advokat bisa juga bersatu dalam satu wadah. Melalui pertarungan seru berbagai kubu, Peradin sebagai organisasi tertua berhasil menggolkan konsep-konsepnya. Bahkan menggolkan Harjono Tjitrosoebono sebagai Ketua Umum Ikadin, nama wadah baru itu. Adakah dengan itu kapak peperangan akan terkubur?

Pimpinan PPP tak henti-hentinya bertikai. Memang ada saat-saat damai, misalnya tatkala Mendagri Soepardjo Rustam ikut menengahi. Waktu itu, Naro dan Soedardji sepakat untuk rujuk. Namun, setelah gelak ketawa usai, dan jabatan tangan mendingin, seteru berlanjut lagi.

Impian itu akhirnya menjadi kenyataan: Indonesia berswasembada beras. Apakah swasembada ini akan terus bertahan? Kapan impian-impian lainnya terlaksana?

Gedung RRI Pusat terbakar. Tapi “Sekali di Udara Tetap di Udara”. Dalam waktu dua jam suara RRI terpancar lagi. Toh sebuah cerita lama terulang: mobil pemadam kebakaran tidak bisa mendekati gedung, karena terhalang bangunan tambahan. Juga selang air yang tua dan bocor ….

Ekspor tekstil dan produk-produk tekstil Indonesia ke Amerika yang, tahun 1984 lalu, mencapai US$ 234 juta nyaris terpotong 81% di bawah gunting RUU Ed Jenkins. Syukur, 17 Desember lalu, Presiden Reagan memvetonya. Tapi itu bukan berarti palang pintu bisa disingkirkan. Sebab, Amerika masih memasang kuota untuk membatasi impor.

Buat pertama kali nama proklamator Soekarno – Hatta dipakai untuk nama sebuah bandar udara yang arsitekturnya dimaksudkan bergaya Indonesia. Setelah kekacauan di minggu minggu pertama, karena pengoperasiannya dipaksakan harus 1 April, bandar udara dengan biaya pembangunan Rp 455 milyar ini beroperasi dengan mulus.

Ia dianggap tidak manusiawi. Ia pun diburu, disisihkan, dan dibuang. Dan tampaknya cuma laut yang dianggap layak menjadi kuburnya. Jakarta dibebaskan dari becak. Tapi, bagaimana nasib ribuan tukang becak? Di tengah masih mengamuknya momok pengangguran, apakah itu suatu pemecahan?

Keraton ternyata masih punya pamor. Buktinya, lima hari setelah Keraton Solo terbakar pada 31 Januari, sebuah panitia pembangunan kembali keraton terbentuk, dan beranggotakan banyak pejabat. Dalam waktu singkat ratusan juta rupiah terkumpul. “Saya adalah ratu wekasan, raja masa kini,” kata Pakubuwono XII, di depan puing istananya.

Para prajurit tua itu berbaris. Masih gagah. Bintang berkilauan di pundak mereka. Dan sebuah generasi perwira, Angkatan 45, melangkah pergi. Sebuah tugas dan periode sejarah telah terlaksana dan terlampaui. Dan suatu generasi baru yang muda telah siap menggantikan mereka.

Bukan cuma lahar, lumut, dan cuaca yang bisa merusakkan candi. Bom meledak di candi Borobudur pada 20 Januari 1985. Pelaku dari motivasi peledakan masih misterius, hingga kini.

Tak akan ada perubahan kurikulum. Itulah janji Menteri P & K Fuad Hassan, yang dilantik akhir Juli 1985, menggantikan Almarhum Nugroho Notosusanto. Perokok berat, pecandu kopi yang sering bergadang dan bermain biola ini, toh, punya rencana jangka panjang: menciptakan kurikulum inti, agar daerah pun bisa mengembangkan kurikulum sendiri.

Inilah pameran besar potret dunia usaha Indonesia selama 40 tahun merdeka. Dari paku hingga pesawat terbang, dari ikan emas sampai anggrek. Menelan Rp 25 milyar, diikuti 1 .300-an peserta, menyita 18.000 m2 lapangan Monas, Jakarta, berlangsung 45 hari dari 1 Agustus. Dan kawasan Monas pun gemerlapan.

Namanya: Pratiwi Pujilestari. Ia adalah doktor rekayasa bidang genetik, 33 tahun, ibu seorang putra, dengan tinggi 164 cm, dan berat badan 53 kg, mengalahkan dua ratusan pelamar – sebagian besar pria – untuk menjadi calon astronaut Indonesia yang pertama. Pratiwi. Pratiwi.

“Elly, Elly”. Jutaan orang meneriakkan namanya. Indonesia memperoleh pahlawan baru: Ellyas Pical menjadi juara dunia tinju. Setelah begitu banyak kekalahan, betapa manisnya suatu kemenangan.

Sektor yang kumuh, sering dipentung dan digusur, ternyata menjadi juru selamat ledakan angkatan kerja. Meski terus diburu, mereka tetap membanjir dan menyerbu, dan tetap dianggap mengganggu.

Penggemar atau perusuh? Puncak kebrutalan penonton sepak bola terjadi di Eropa, persisnya di Stadion Heysel, Belgia. Yang tewas 38 orang, yang luka-luka 473.

Tidak ada mukjizat untuk Omayra Sanchez. Bersama 20.000 penduduk Armero, gadis kecil ini, berusia 12 tahun, terbenam lumpur yang dimuntahkan Gunung Nevado del Ruiz, Kolombia. Sebelum ajalnya, Sanchez masih bicara tentang ujian matematika.

Lagi-lagi bajak pesawat. Boeing 727 TWA disandera 17 hari di bandar udara Beirut. Pelakunya: laskar militan Amal Syiah. Korbannya: seorang tentara AS. Hasilnya: 300 warga Syiah Libanon dibebaskan dari penjara Israel.

Di tangan Amal Syiah, Boeing 727 Alia berubah jadi mainan. Pesawat Yordania itu diledakkan, kabarnya cuma untuk unjuk perasaan. Korban tidak ada.

Sebuah jumbo Air India meledak di atas perairan Irlandia. Teror Sikh? Untuk menjawab teka-teki ini, digunakan robot pencari blackbox. Untuk mayat, dikerahkan beberapa heli.

Bukan Pompei tapi Mexico City. Dua kali diguncang gempa, puing dan ratap di mana-mana. Sekitar 12.000 tewas oleh guncangan berkekuatan 7,8 pada skala Richter itu.

Konser amal raksasa Live Aid diselenggarakan Bob Geldof untuk korban kelaparan Etiopia. Dari kedua konser di London dan Philadelphia terkumpul US$60 juta, dan dari rekaman US$ 10 juta. Mengagumkan .

Jutaan dolar mengalir ke Etiopia. Tapi, sebagian besar dana kemanusiaan itu dikorup para pejabat setempat. Bocah Afrika ini, hanya bisa pasrah.

Reagan dan Gorbachev bertemu di Jenewa. Tentang program Perang Bintang mereka sepakat untuk tidak sepakat. Tentang rudal mereka akan berbincang-bincang lagi, nanti.

Dalam satu tahun, semua keraguan terhadapnya sirna. Rajiv Gandhi tidak cuma sukses dalam pemilu, tapi juga sanggup mengatasi guncangan teror dan krisis pembunuhan tokoh Sikh moderat, Harchand Singh Longowall. Bekas pilot itu, kini, dengan mantap melanjutkan tradisi kepemimpinan keluarga Nehru di India, negara demokrasi terbesar di dunia.

Di Cina, Deng Xiaoping dan regenerasi adalah dua hal tak terpisahkan. Deng menancapkan sejumlah muka baru di Politbiro Partai Komunis Cina dan Angkatan Bersenjata, lalu diam-diam mencari calon penggantinya. Proses suksesi memang sudah dimulai, tapi tugas jago tua itu jauh dari selesai.

Kerusuhan rasial mewabah di Afrika Selatan, tapi dunia tidak bisa berbuat apa-apa. Ratusan orang hitam ditembak, ribuan ditangkap. Penyair Benjamin Moloise digantung, pemimpin hitam Nelson Mandela dikembalikan ke penjara. Pemerintahan Botha mau ke mana?

Skandal Rainbow Warrior mengguncang bumi belahan utara dan selatan. Pemerintahan Francois Mitterrand terancam bubar, sebaliknya, protes nuklir PM Selandia Baru David Lange justru semakin gencar. Untuk pertama kali, Selandia Baru mulai diperhitungkan.

Filipina meledak atau tidak ? kandidat oposisi Corazon Aquino bisa menjawabnya lewat pemilu. Sementara itu, acara di Manila dan beberapa kota tidak berubah: demonstrasi, unjuk rasa, huru-hara ….

Sjuman Djaya: Sutradara yang memikirkan tema-tema besar itu, yang film-filmnya berbau kerakyatan, dan ia juga dikenal ogah berkompromi dengan produser, meninggal dunia di Jakarta, 19 Juli. Dalam usia 52, ia memang tak banyak melahirkan film, hanya 14 buah. Tapi dialah yang memberikan kembali wajah kita: Mamad, si pegawai kecil.dan si Doel, anak-anak kita di seantero tanah air.

Nugroho Notosusanto: Seorang bapak asuh telah pergi pada 3 Juni. Nugroho, 54, adalah Menteri P & K yang memberikan jalan nyata bagi masyarakat untuk terlibat pada dunia pendidikan – terutama pendidikan dasar, khususnya bagi murid yang tak mampu – dengan program orangtua asuh.

K.H.E.Z. Muttaqien: Ketua MUI, yang juga Rektor Universitas Islam Bandung, memang bukan tokoh yang menonjol di pergaulan. Tapi dialah sahabat dan seorang ulama penuh keteladanan. Seorang yang, konon, pada mulanya keras, dan kemudian menyadari: tak baik menjadi oposisi abadi. Terbaring koma selama dua minggu akibat kecelakaan lalu lintas, mobilnya bertabrakan, akhirnya ia pun menghadap Yang Maha Pencipta pada 27 April dalam usia 60 tahun.

Imam Waluyo: Orang yang tak bisa diam, kaya dengan ide meninggalkan kita pada 6 Juli lalu dalam usia 42 tahun. Eskponen Angkatan 66 itu, yang tetap aktif dalam gerakan mahasiswa di awal 1970-an, lalu banting setir: memusatkan kegiatannya di bidang pendidikan dalam arti luas. Antara lain, Imam mendirikan Himpunan Masyarakat Pencinta Buku, dan kemudian menerbitkan Optimis, majalah berita buku.

Nartosabdo: Mungkin tak ada lagi dalang seperti Narto, yang berani mengulur goro-goro, hingga adegan lain terpaksa disingkat. Di lain kesempatan, bisa saja ia menyampaikan cerita dengan mengharukan. Toh, akhirnya, ia pun harus menyerah, pada 12 Oktober lalu, dalam usia 60, karena berbagai penyakit. Orang yang kaya ide pertunjukan wayang ini pernah membuat Ngesti Pandowo, Semarang, sangat populer.

Oesman Effendi: Dunia seni lukis Indonesia kehilangan seorang tokoh yang lugas, berani, yang kadang-kadang muncul dengan gagasan mengejutkan. Adalah Oesman awal 1 970-an, yang mengatakan, seni lukis Indonesia belum ada. Betapapun goyahnya dasar pernyataan Itu, ia telah membuat seni lukis kita berpikir kembali OE meninggal pada 28 Maret dalam usia 66 tahun.

Abdullah Syafi’ie: Ia biasa bangun menjelang subuh, lalu merekam ceramahnya untuk disiarkan di Radio Assyafi’iyah. Tetapi, 3 September pagi itu, K.H. Abdullah Syafi’ie, 75, pendiri perguruan Assyafi’iyah merasa lemas setelah merekam kuliah subuhnya beberapa menit. Ia kemudian dilarikan ke RS Islam, Jakarta. Di perjalanan, Ketua MUI DKI Jakarta ini meninggal dunia.

Carlos Pena Romulo- “Saya mengabdi pemerintah dengan satu tujuan, yakni melindungi kepentingan rakyat, terlepas dari kepentingan partai politik atau apa pun. ” Orang Asia pertama yang terpilih sebagai Ketua Majelis Umum PBB, pada 1949, ini dipuji sebagai tokoh serba bisa. Ia memang orang yang setia kepada Presiden Ferdinand Marcos sampai akhir hayatnya. Sehabis operasi usus di Manila, Romulo, 87, bekas Menlu Filipina itu, menghadap Tuhan 15 Desember lalu.

Surya Wonowidjojo: Merasa usahanya mundur, pendiri dan presiden komisaris perusahaan rokok Gudang Garam, ini kembali mengawasi langsung perusahaannya. Hasilnya: omset perusahaan naik lebih dari Rp 800 milyar, dan cukai yang disetor lebih dari Rp 100 milyar, 35 persen dari penerimaan cukai rokok negara. Tapi, ada yang tak bisa diajaknya kompromi: penyakit jantung. Surya (d/h Tjoa Jien Hwie) meninggal di Selandia Baru, 29 Agustus, dalam usia 62 tahun.

Rock Hudson: Meninggal dunia dalam usia 59 tahun, di Los Angeles, 2 Oktober lalu, aktor ini mewariskan ketakutan panjang tentang AIDS. Penyakit ini sudah lama menggerogoti tubuh Hudson, tetapi baru diakuinya pada 1984. Ia menyumbang US$ 250.000 sebelum wafat, untuk dana penelitian AIDS.

Tan Tjeng Bok: Superstar grup sandiwara Dardanella pada 1930-an, yang bisa dengan enak ganti-ganti istri dan mobil, toh, bangkrut di hari tuanya. Buaya keroncong, yang dikenal sebagai aktor tiga zaman, itu meninggal pada usia 85 tahun, di rumahnya yang sangat sederhana di Pekojan, Jakarta Barat.

Yul Brynner : Ia adalah orang pertama – 34 tahun – memakai mahkota Raja Siam. Tapi ia tak punya rakyat, kecuali beberapa hulubalang dan dayang, dan wilayah kekuasaannya pun sebatas pentas di Broadway, New York. Menjelang akhir hayatnya, 10 Oktober silam, Brynner, 65, pemeran raja dalam drama musikal The King and I, sempat dikunjungi Ratu Sirikit, permaisuri Raja Bhumibol Adulyadej, penguasa Muangthai sekarang. Selang beberapa pekan kemudian Raja Siam di Broadway itu ditaklukkan oleh kanker paru-paru. Ia menemui ajal ditunggui Kathy Lee, istri kelima, yang baru dinikahinya dua tahun.

——————————–

[Pecinta Keretapi] Re: Foto2 KA Sumbar Tahun 1985 – Next: Bkt & Pykmbh…?

Y. Napilus
Thu, 12 Mar 2009 10:18:28 -0700

Mak Ngah di Amrik, Pak Saaf di Jkt, Heri di Paris dan Dunsanak2 sedunia,

Barusan saya perhatikan lagi baik2 foto2 dari link ini:
http://searail.mymalaya.com/PJKA1985WS/ PJKA1985WS.htm

Ternyata memang ada puluhan Loko Uap kita dulu. Lihat saja serinya dari foto
tsb yg ada: E-1007 hingga E-1061. Saya awalnya agak setengah kurang percaya
juga bahwa salah seorang Kepala Stasiun di Sumbar mengatakan dulu ada sktr 50
unit lebih Loko Uap ini. Lalu dijual sbg besi tua semuanya kecuali dikirim
masing-masing satu unit ke Taman Mini dan Ambarawa. Info dari salah satu member
kita di milis, besi-besi Loko tsb digunakan untuk mensuplai salah satu pabrik
baja di negara ini, kata beliau. Sampai sejauh mana kebenaran berita ini, kita
belum punya buktinya. Kecuali PT KAI bersedia melakukan bantahan secara
tertulis. Agar tidak terjadi kesimpang siuran sejarah, kalau memang dirasa
perlu pelurusan info tsb…

Sebetulnya berapa besar sih produksi Batubara kita dulu sehingga diperlukan
sekian puluh unit Loko Uap…? Belum lagi ditambah dg seri BB-204. Adakah
dunsanak yang bisa membantu hitung-hitungannya…? Riri biasanya selalu kayak
kamus nih…:)

Saya semakin kagum dg kekayaan KA kita di Sumbar, luar biasaa… Jadi tidak
salah lah kalau kita harus ikut membantu me-revitalisasi KA di Sumbar ini.
Jalur tidur ke BUKITTINGGI dan PAYAKUMBUH menunggu dukungan kita semua…!
Jangan sampai hilang tuh sejarah legendaris Mak Itam dan Kejayaan KA di
Sumbar…! Walaupun pasti akan selalu ada pro dan kontra untuk itu.

Pak Jusuf Kalla melalui Firdaus SSM katanya sudah pesan agar jalur ke
Bukittinggi kalau bisa segera bisa dihidupkan kembali. Dunsanak kita Kurnia
Chalik, Ketua II MPKAS, sudah mulai melakukan lobby-lobby ke bbrp Kepala Daerah
terkait dan membuat rencana-rencana berikutnya… Nanang Asfarinal, Kepala
Divisi Pariwisata MPKAS, sudah mengusulkan diadakannya Pameran Foto-Foto KA di sktr Jam Gadang utk membangun Opini Publik… Berhasil atau tidak, itu urusan
nanti. Yang penting dimulai aja. Tapi tantangannya jelas lebih berat dari
pembukaan jalur Padang – PP – Solok – Sawahlunto.

Semoga semua rekan-rekan Media yang saya bcc di email ini juga tetap bersedia
ikut membantu untuk membangun Opini Publik tsb. Agar Bapak-Bapak Pejabat kita,
Anggota Dewan yth, baik didaerah maupun di pusat, terbantu dan terbuka matanya
dengan lebih mudah agar “berani ngetok palu” dan menurunkan bantuannya ke
Sumbar, LAGI…:) Terima kasih.

Salam,
Nofrins
http://www.train.west-sumatra.com
http://www.mpkas.west-sumatra.com

NB: Maaf ‘tajelo-jelo’ agar isu nya gak putus…

________________________________
From: Dr.Saafroedin BAHAR <saaf10…@yahoo.com>
To: MPKAS <makitam@yahoogroups.com>; RantauNet2 Milis
<rantau…@googlegroups.com>; WSTB <w…@googlegroups.com>;
makItam@yahoogroups.com
Sent: Thursday, March 12, 2009 8:32:11 PM
Subject: Re: [Pecinta Keretapi] Re : […@ntau-net] Foto2 KA Sumbar Tahun 1985

Itulah kisah yang menyedihkan dari ‘pembantaian’ atau istilah kini ‘mutilasi’
dari demikian banyak lokomotif uap yang demikian cantik dan historis, oleh para
pejabat negara yang  berpikiran picik dan tak punya wawasan kesejarahan sama
sekali.

Wassalam,
Saafroedin Bahar
(L, masuk 72 th, Jakarta; Tanjuang, Soetan Madjolelo; Lagan, Kampuang Dalam,
Pariaman.)
“Basuku ka Ibu; banasab ka Bapak; basako ka Mamak”.
Alternate e-mail address: saaf10…@gmail. com;
saafroedin.bahar@ rantaunet. org
________________________________
From: hambociek <hamboc…@yahoo.com>
To: rantau…@googlegroups.com
Sent: Thursday, March 12, 2009 8:13:59 PM
Subject: Re: Re : […@ntau-net] Foto2 KA Sumbar Tahun 1985

Labiah tahibo lai hati ambo pribadi mancaliak gambar-gambar tu.
Tahun 1985 tu ambo pulang untuak partamu kali sasudah manginggakan
Kampuang salamo hampia 20 tahun. Kalau ambo Pulang Kampuang, rencana
ambo wakatu itu ingin dan rindu naik manikmati koretapi dan bendi dari
Bukittinggi ka Biaro; maota-ota jo Rang Kampuang di ateh koreta,
maota-ota jo Kusia Bendi diiriangi bunyi tingkah kacipak-kacipak lari
kudo. Tapi apo nan tajadi?

Ambo sabana shocked, tacangang,
tacangak, sabak-sabak, sabana manangih, baibo hati, karano tibo-tibo
hambo mahadoki Kampuang Halaman indak ado bakoretapi lai. Jalan
koretapi alah ditumbuahi rumpuik. Indak ado panah ambo dapek kaba
tantang itu sabalun pulang. Bendi pun dari Bukittinggi ka Biaro indak
pulo ado lai…

Panah ambo kamalaman di Pasa (Bukittinggi) dek
mancari-cari durian sasudah sanjo. Ari ujan-ujan ketek, ditunggu-tunggu
oto jo kamanakan padusi manjejeng durian. Oto dari Padang-Payokumbuah
nan ka lalu ka Biaro indak datang-datang. Ruponyo arah jalan lalu
lintas lah diubah urang pulo. Oto Padang nan titunggu-tunggu di Aua
Tajungkang, Pasabando di bawah Janjang Amek Puluah, indak ado lai. Oto
lah lalu mamutuih dari Birugo ka Tarok dan malinteh ka Simpang
Mandiangin. Dijenjenglah durian bajalan dari Aua Tajungkang ka Simpang
Mandiangin diarak ujan-ujan rinai di dinginnyo Bukittinggi wakatu malam.

Panah ambo bangih hati, indak ado oto ka pulang malam, ambo bae bajalan ka dari
Pasa ka Biaro.

Baitulah
“perkembangan” nan marusak hati, hanya dapek dirasokan kalau awak lah
lamo maninggakan Kampuang. Kalau urang nan taruih-manaruih tingga di
sinan, parubahan nan baansua-ansua tu indak taraso bana. Tapi, dalam
kuduangan wakatu nan agak ta jarak, saroman 20 tahun tu, parubahan tu
taraso saroman awak tasirumbu ka tapi tabiang, tajatuah ka jurang
Ngarai …

Salam,
–MakNgah

— On Thu, 3/12/09, Tanjuang Heri <rangtabiang63@ yahoo.fr> wrote:
From: Tanjuang Heri <rangtabiang63@ yahoo.fr>
Subject: [Pecinta Keretapi] Re : […@ntau-net] Foto2 KA Sumbar Tahun 1985
To: “MPKAS” <maki…@yahoogroups .com>, “RantauNet2 Milis” <rantau…@googlegro
ups.com>, “WSTB” <w…@googlegroups. com>
Date: Thursday, March 12, 2009, 6:59 PM

Iyo ibo ati mancaliek foto² tu Nof, ambo pun sempat waktu SD di muko stasiun
Tabiang mancaliek loko² baranti di stasiun. Mudah²an nan ado di awak kini bisa
dipaliharo jo baumua panjang demi pariwisata Minang.

Namun dr pado itu, pengertian pariwisata, terutama jo rencana mendatangkan
wisman, harus kito agiah jo tarangkan bana, supayo jaan ide “wisman asing”
identik jo malapetaka, sumber penyakit, dan penghancur moral bangsa, free sex
dll. Efek sampingan tantu ado, tp klo kito alah punyo pegangan teguh soal
budaya awak nan indak lapuak de hujan, nan indak lakang dek paneh, kito indak
paralu takuik. Iko PR awak nan paliang gadang.

Baa kiro kiro Nof?

Heri Tanjuang (45)
Rang Tabiang
Paris, Perancis
HP : +33614397*** (baru diganti) pls dlt nan lamo
Fax :+33140598***
HP Indo : 0811885*** (hanyo utk SMS) —>maaf saya hilangkan

— En date de : Jeu 12.3.09, Y. Napilus <ynapi…@yahoo. com> a écrit :
De: Y. Napilus <ynapi…@yahoo. com>
Objet: […@ntau-net] Foto2 KA Sumbar Tahun 1985
À: “MPKAS” <maki…@yahoogroups .com>, “RantauNet2 Milis” <rantau…@googlegro
ups.com>, “WSTB” <w…@googlegroups. com>, “Milis SMA1Bkt” <sma1…@yahoogroups
.com>, “IPMPP” <ip…@yahoogroups. com>
Date: Jeudi 12 Mars 2009, 11h32

Silahkan buka: http://searail. mymalaya. com/PJKA1985WS/ PJKA1985WS. htm

Kalau semua itu pernah ada di Sumbar, pertanyaannya: “Kemana aja tuh semuanya
sekarang ya…?”. Sayang betul kalau memang bener dulu dilego sbg besi tua…:(
Padahal skrg diperlukan banget untuk membantu memicu diferensiasi Industri
Pariwisata kita…

Salam,
Nofrins

Sumber
http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/1986/01/04/KIB/mbm.19860104.KIB34263.id.html
http://www.mail-archive.com/makitam@yahoogroups.com/msg01114.html
http://www.google.co.id/search?q=tokoh+muda+usia+25+tahun

Filed under: berita, curahan hati,

2 Responses

  1. Budi Mulyono mengatakan:

    panjang amat……

  2. […] saya menjadi sangat tertarik dengan lagu ini ketika baca liriknya. Dan tentu juga tepat dengan umur saya yang […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Photobucket

Kategori

Iklan

Adsense IndonesiaCO.CC:Free DomainCO.CC:Free DomainAdsense Indonesia

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 7 pengikut lainnya

My Profile

Romi Mardela merupakan seorang anak manusia yang terlahir sebagai anak yang selalu ingin belajar dan terus belajar (siapa juga yang tidak mau belajar, bung?)
....selengkapnya

Chat with me (id: romymardela)


yang lagi online

Aku Berpikir Maka Aku Ada

Kita mempunyai jumlah wak tu yang sama meskipun kemampuan yang kita miliki tidak sama. Tapi orang yang memanfaatkan waktu dengan lebih baik sering kali mengalahkan mereka yang punya kemampuan lebih banyak. (anonim)

Just follow me…

 

Profil Facebook Romi Mardela

Blog Stats

  • 65,085 hits
%d blogger menyukai ini: