tentang kita dan dunia

Ceritakan padaku sebuah mimpi

Catatan kecil tentang Timnas Sepakbola Indonesia

“Bahkan bermain dengan 13 orang pun Indonesia juga tidak mampu menang.” Ini stensilan dari temanku setelah menyaksikan kualifikasi piala Asia, antara Indonesia melawan Oman, di Stadion Gelora Bung Karno Rabu (6/1) melalui televisi, di mana Indonesia harus menelan kekalahan 2-1.

Saya hanya akan memberikan beberapa catatan tentang pertandingan Timnas Indonesia kali ini. Selain, tidak terlalu mendalami konsep yang diterapkan Benny Dolo (Bendol) pelatih Timnas, komposisi pemain yang diterjunkan pun saya juga tidak terlalu mengenalnya.

Namun, meski demikian, bukan berarti saya hanya akan membual dan mencaci saja. Tapi, dari keinginan saya untuk menulis tulisan ini, jelas bahwa saya ingin memberikan sesuatu yang terbaik untuk Timnas, untuk Indonesiaku. Setidaknya, dengan menyampaikan opini tentang kondisi tim. Meski tidak akan didengarkan ataupun mengubah sesuatu, saya sudah mendokumentasikan batu-batu kecil perjuangan Timnas untuk dapat menjadi sebuah onggokan batu besar, dan mungkin saja akan menjadi sebuah gunung yang suatu saat nanti akan bermanfaat.

Kita sudahi mukadimah, kita lanjutkan ke analisis pribadi saya sebagai seorang mahasiswa Olahraga yang pernah mencicipi pendidikan dasar sepakbola sampai tahap pendalaman. Yang artinya harus diikuti karena menjadi syarat standar kelulusan untuk jurusan saya.

Saya akan membahas permainan Timnas kali ini dimulai dari akhir pertandingan, seperti saya memulai catatan ini. “Pemain tambahan” yang masuk menjelang berakhirnya waktu, saya anggap sebagai bonus atas kejengkelan penonton yang juga telah mempresentasikan kejengkelan saya pribadi.

Jika Anda berminat untuk membaca tulisan ini silakan lanjutkan. Namun jika Anda ragu-ragu silakan tinggalkan, karena tulisan ini memaparkan ulasan yang panjang tentang PSSI. So, it’s up to u gals…

Catatan ini dimulai saya melihat secara keseluruhan kekalahan ini disebabkan oleh pelatih Timnas serta akibat tidak adanya ‘komando’ para pemain di tengah lapangan.

Pelatih Timnas tersebut (saya tidak ingin menyebut nama karena tidak menganggap ini hanya menjadi tanggung jawab Bendol), tidak mampu memberikan pilihan kepada para pemain untuk menciptakan peluang untuk menghasilkan gol. Hal ini terlihat dari peluang yang diciptakan tim hanya melalui lapangan tengah. Di mana, hal ini tentu saja menjadikan Boas Solosa sebagai ujung tombak. Karena, dari pengamatan saya, hanya Boas yang memiliki kemampuan fisik dalam lari cepat, dibandingkan Bambang, atau pemain lainnya.

Salah satu gol yang diciptakan Boas membuktikan hal tersebut. Namun, saya belum bangga dengan gol itu. Karena gol yang diciptakan Boas tersebut murni aksi pribadi. Meskipun, itu hasil umpanan dari pemain lainnya, namun kemampuan Boas menempatkan diri serta aksi menggiring yang matang dan kemampuan melihat sudut gawang, murni menjadi alasan kenapa gol tersebut tercipta.

Kita lihat pada saat gol Boas yang terjadi pada masa injury time babak pertama tersebut, tidak ada pemain pendukung (pemain tanpa bola) yang mengiringi Boas hingga Kotak Penalti. Setelah bola dioper ke Boas, pemain lainnya menyaksikan tingkah Boas menciptakan peluang gol.

Posisi seperti ini yang saya sebut sebagai ujung tombak. Boas saat itu benar-benar menjadi ujung tombak, sementara pemain lainnya hanya mendukung di bagian sayap hanya beberapa meter dari lingkaran tengah. Lebih tepatnya, posisi Boas seperti segitiga sama kaki, dengan Boas berada di sudut atas.

Dengan posisi demikian, jelas tidak menguntungkan Indonesia, jika bola yang ditendang Boas ternyata dapat ditangkis dan dipantulkan oleh kiper Oman. Karena saat itu, ada tiga pemain belakang Oman yang ikut melindungi gawang.

Saya lebih suka menyebutnya Gol Keberuntungan. Satu orang Boas yang menerobos ketatnya kawalan pemain belakang. Dan tentu saja, Anda tidak akan melihat kejadian serupa, kondisi ketika Boas menciptakan gol tersebut. Alasan sederhana sebenarnya, karena ini merupakan ‘insting’ pemain belakang yang tidak mau kebobolan dengan kejadian yang sama.

Artinya, team work para pemain belum terlihat. Di mana seharusnya, satu pemain mendukung pemain lainnya. Misalnya, ketika Boas berada pada posisi yang pas untuk menerima bola lambung dari pemain sayap, tentu sebelumnya dia telah memperhitungkannya bahwa bola akan ke daerah lawan. Tapi, hal ini tidak terbaca oleh pemain tengah dan pemain depan lainnya. Padahal ketika bola telah berada di sayap kanan lapangan, itu artinya, pemain tengah dan pemain depan sudah harus berada di posisi menyerang. Bukan lagi bertahan. Sehingga ketika Boas telah sampai menggiring bola di dalam kotak penalti, para pemain pendukung lainnya, pasti mencari tempat strategis dan mengamati jika saja terjadi bola pantul.

Sederhana sebenarnya, sama sederhananya ketika saya mendapatkan materi dasar bermain bola, dulu. Saya tidak terlalu ingat secara detail, namun yang jelas ada tidak daerah posisi dalam lapangan sepakbola: daerah bertahan (belakang), daerah mencari peluang (tengah), dan daerah menyerang (depan).

Selanjutnya, agar kami ketika itu memahami masing-masing tugas dalam setiap daerah permainan, jumlah kami lebih banyak daripada lawan. Artinya, fokus materi kuliah, pada salah satu daerah lapangan. Misalnya, fokus daerah menyerang (depan), itu berarti agar kami dapat memahami tugas dan bagaimana menyerang kami harus lebih banyak dari pada pemain bertahan. Tujuannya jelas, agar kami lebih mudah melakukan penyerangan dan itu artinya lebih mudah menciptakan gol. Yap, gol adalah tujuan utama dari bermain bola. Bagaimana suatu tim dapat menciptakan gol, maka tujuan permainan sudah tercapai. Jadi, sudah tentu salah kalau bermain bola hanya untuk mencari angka imbang atau seri.

Tapi, itu kan dalam perkuliahan. Dan kondisi pertandingan lebih nyata dan tak dapat diprediksi. Bagaimana mungkin bisa menerapkan teori dalam keadan nyata?

Saya anggap ini pertanyaan bonus tentang bagaiaman kaitan teori dan praktik. Memang benar itu dalam perkuliahan. Namun, kondisi seperti itu dapat diciptakan, dan seharusnya memang diciptakan. Di mana seharusnya, pemain depan menjadi lebih mudah menyerang karena banyaknya pemain pendukung dalam mencari dan mengekseskusi peluang.

Semua peluang, dan bagaimana menciptakan peluang merupakan strategi dalam bermain bola. Dan strategi itu diciptakan melalui teori atas pengalaman kerja sebelumnya. Sedikit saya singgung tentang perencanaan program oleh pelatih, saya rasa semua pelatih di seluruh dunia ini membuat materi program berdasarkan pengalaman (dia sendiri, pemain, tim, negara, klub, dan lainnya) atau bisa juga eksperimen. Namun saya rasa eksperimen nantinya juga akan menjadi pengalaman ketika sudah diterapkan. Dan pelatih akan memakai, menambah, dan mengurangi dari pengalaman sebelumnya itu untuk merencanakan program selanjutnya.

Kembali ke posisi bermain tadi, seluruh pelatih menginginkan anak latihnya bermain sesuai arahan yang telah direncanakan ketika latihan. Hal ini tujuannya, agar permainan dapat diprediksi, dan peluang-peluang dapat diciptakan karena para pemain sudah paham bagaimana membuat peluang ketika ia berada di suatu posisi dan bagaimana pemain pendukung lainnya menempatkan posisi mereka untuk membuka peluang lainnya yang lebih besar.

Ketika dalam latihan strategi, pelatih biasanya akan membagi-bagi bentuk latihan berdasarkan daerah permainan ini. Kemudian tiga daerah permainan tersebut juga akan dibagi lagi menjadi bentuk permainan yang lebih kecil, berdasarkan kebutuhan masing-masing tim. Sehingga setiap bentuk latihan strategi akan memerlukan beberapa orang pemain. Jadi, tidak mungkin satu orang yang dilatih, jika sudah dalam bentuk latihan permainan.

Bentuk latihan dalam olahraga permainan, dan termasuk sepakbola ada tiga bentuk: fisik, teknik, dan strategi. Untuk latihan fisik, sudah jelas tujuannya untuk peningkatan fisik masing-masing pribadi, misalnya kekuatan, kecepatan, dan daya tahan, serta kelentukan.

Kemudian latihan teknik ada dua, individu dan kelompok. Teknik individu seperti kemampuan mendribel bola, heading, dan lainnya yang berkaitan dengan kemampuan seorang individu menguasai bola di kakinya. Sementara, teknik kelompok yang saya maksud, atau biasa disebut taktik yakni seperti ‘one two’ atau ‘satu dua’ dalam sepakbola. Artinya, seorang pemain (pemain A) yang menggiring bola kemudian mengoper ke pemain lainnya (pemain B) dan pemain B tersebut langsung mengoper bola ke pemain A hanya dengan satu sentuhan, tanpa menggiring bola lagi. Hal ini tidak mungkin dapat dilakukan jika pemain B tidak mengenal arah gerakan pemain A. Agar pemain B dapat mengenal arah gerakan pemain A maka diperlukan latihan taktik itu tadi.

Selanjutnya, strategi. sudah tentu untuk keseluruhan orang yang terlibat dalam olahraga tersebut bahkan orang yang dilibatkan juga bisa meluas seperti pelatih, offisial, tim kesehatan, dan sebagainya di luar tim itu sendiri.

Nah, saya berani menjamin, untuk pemain profesional fokus latihan mereka adalah teknik kelompok dan strategi. Karena, jika seorang pemain profesional tidak memiliki fisik dan teknik individu yang bagus ia tidak akan menarik oleh klub ataupun leh tim negaranya. Dan karena ini juga alasan seorang pemain bisa dikatakan profesional, sebab mereka memiliki kemampuan di atas rata-rata dan kemampuan tersebut biasanya memiliki nilai. Singkatnya, seorang pemain pro, sebutan bagi pemain profesional, bisa menjadi orang yang sangat kaya karena kemampuan fisik dan teknik individu yang dimilikinya.

Akan tetapi, meski kemampuan individu seorang pemain sangat bagus, bukan berarti tidak ada latihan untuk individu. Tentu saja tetap ada latihan, karena itu juga menjadi syarat supaya pemain tersebut dapat menjadi performance atau kemampuannya itu.

Nah, saya rasa pelatih Timnas (Bendol) masih ada kekecewaan atas gol Boas tersebut karena gol yang tercipta tidak berdasarkan latihan yang telah ia berikan. Memang benar ada latihan yang seperti posisi Boas sebelum menerima bola dan pemain lainnya yang memberikan bola kepada Boas itu. Namun saya berani menjamin, kalau pelatihnya pasti menekankan bahwa harus ada dukungan pemain lainnya. Terlalu naif, seorang pelatih jika hanya mengandalkan satu orang pemain untuk menciptakan peluang dan menghasilkan gol. Sungguh pekerjaan yang luar biasa besarnya bagi pemain yang mendapatkan tanggung jawab seperti itu.

Kemudian kita tinjau dengan posisi Oman ketika pemain depannya menciptakan gol kedua. Ada dua pemain depan yang berada di kotak penalti dan berjarak tidak terlalu jauh. Meskipun pemain pendukung tersebut sudah mengetahui secara pasti bahwa ia tidak akan mendapatkan bola karena melihat temannya memiliki peluang untuk menendang langsung ke gawang, namun ia juga sadar bahwa posisinya berdiri tidak jauh dari temannya itu sudah benar. Dengan posisi yang berdekatan tersebut, sudah menguntungkan timnya andai saja bola memantul. Bahkan kalau pun tidak memantul, ia telah membuat pertahanan Timnas menjadi terpecah tidak hanya pada satu pemain yang sedang mendribel bola.

Kondisi seperti ini yang sangat saya ingat dalam perkuliahan sepakbola dulu. Bahwa sekalipun kita tidak sedang mendribel bola, bukan berarti kita tidak dalam sebuah permainan. Ini yang juga disebut sebagai taktik. Yakni mengalihkan perhatian lawan. Dan jika tugas mengalihkan perhatian lawan ini terlaksana dengan baik, maka peluang lainnya pun tercipta seketika.

Hal ini yang menurut saya, benar-benar diterapkan Oman. Karena saya lihat, setiap peluang gol yang tercipta, selalu lebih dari satu orang pemain Oman yang berada di kotak penalti. Hal ini jugalah menurut saya yang menyebabkan sedikitnya peluang Indonesia untuk membobol gawang Oman.

Selanjutnya kita akan menyorot gelandang tengah atau yang lebih top disebut play maker. Kenapa disebut play maker, ya tentu saja karena ia yang menciptakan bagaimana bentuk sebuah permainan akan dimainkan nantinya. Play maker ini yang memberikan atau mengubah arah permainan. Itu artinya, dia yang akan menentukan kemana arah serangan dilancarkan atau mengganti arah serangan. Dia orang yang memiliki pandangan paling luas karena berada di tengah lapangan permainan. “Kalau kata dosen saya, jangan bermain seperti kerbau yang hanya melihat rumput saja. Tapi harus berpandangan luas.” Sudah tentu sulit menjadi play maker ini, karena ia menjadi kunci permainan dan sebagai penentu apakah permainan tim menjadi hidup atau malah mati.

Bagaimana dengan play maker Timnas ketika melawan Oman kemarin. Kalau Anda ingin bertanya siapa play maker? Atau mengatakan bukankah tidak ada play maker. Maka saya ragu menjawabnya, sebab seperti yang saya jelaskan pada awal tulisan ini, saya tidak tahu komposisi Timnas ini dan konsep yang diterapkan pelatihnya. Namun saya tidak merasa bersalah dengan ketidaktahuan ini. Sebab, yang setahu saya, yang namanya play maker sudah pasti mudah terlihat, karena dia yang menciptakan permainan itu. Lantas, siapa yang menciptakan permainan pada pertandingan itu? Saya tidak melihat adanya siapa-siapa. Semuanya kacau balau, seperti tidak ada ball formation atau pun formasi pemain. Bola datang dan menuju ke gawang lawan dari arah yang tak menentu dan tak pasti. Ada dari tengah dan terkading dari samping kiri atau kanan.

Tapi, bukankah itu juga suatu strategi? Benar. Namun, saya tekankan lagi, bahwa saya beranggapan sepakbola itu memiliki pola yang tetap tidak acak ataupun cenderung tidak berbentuk. Hal ini saya tekankan sebab, seorang pelatih tidak mungkin untuk melatih tim yang dilatihnya secara acak. Karena pelatih memiliki alur dan tingkatan yang jelas dalam target latihan yang akan dicapai timnya.

Misalnya, pemain belakang Timnas yang sedang berada di kotak penalti, memutuskan untuk melakukan penyerangan melalui sisi kiri. Maka ia akan mengupayakan agar bola dapat bergulir di sisi kiri lapangan melalui back kiri, terus hingga melewati lapangan tengah menuju pemain sayap. Lalu, jika ada pemain tengah yang melihat peluang untuk menyerang di posisi itu maka ia akan meneruskannya dengan cara meminta bola setelah ia terlebih dulu berlari ke sisi kiri lapangan. Terakhir, pemain tengah ini akan berusaha membawa bola minimal sejajar dengan garis 16 setelah itu dioper ke pemain depan yang terlebih dulu ada di kotak penalti.

Sebuah pola yang jelas bukan. Bandingkan, jika pemain back tengah langsung menendang bola ke pemain depan sedang berada di tengah lapangan. Berapa banyak energi yang akan dikuras oleh satu orang pemain belakang, dan berapa besar kemungkinan bola dapat diselamatkan oleh pemain depan tersebut. Kita anggap pemain belakang tersebut mampu melakukannya secara terus menerus, namun persoalan terbesarnya adalah peluang yang dimiliki pemain depan menjadi lebih sedikit untuk dapat mendapatkan bola. Sebab ketika bola berada di pemain belakang, maka pemain belakang lawan tidak akan berada di daerah sekitar kotak penalti daerahnya tetapi mereka akan lebih dekat ke garis tengah dengan tujuan mempersempit gerak lawan. Dan itu artinya, lebih dari setengah pemain lawan juga sedang berada di tengah lapangan.

Acak yang saya maksudkan di sini, tidak jelas dalam pola menyerang. Karena kondisi acak dalam operan bola bisa saja terjadi dan sangat sering terjadi. Di mana, ketika seorang pemain ragu jika ia memaksakan arah tersebut maka bolanya akan dikuasai lawan, karena itu ia mengembalikan bola atau mengganti arah ke pemain yang lain.

Meski demikian, peluang terbesar sebenarnya diciptakan oleh play maker tersebut. Karena ia bisa melihat daerah permainan secara menyeluruh mulai dari belakang, samping kiri dan kanan serta di depan. Sehingga ketika ia menguasai bola ia lebih mudah memutuskan apakah akan memberikan ke pemain depan untuk meneruskan penyerangan melalui lapangan tengah, atau memberikan bola ke pemain sayap untuk menyerang melalui sisi lapangan. Atau bahkan mengoper kembali ke pemain belakang, karena tidak memungkinkan menyerang pada saat itu. Hal ini tujuannya juga untuk membuka peluang yang lebih besar lagi, di mana para pemain sayap atau pemain depan bisa lebih membuka posisi mereka karena tidak lagi dijaga ketat oleh lawan.

Kenapa tidak lagi dijaga ketat? Prisip lain dalam bermain bola yang disampaikan dosen saya yang sama: “jagalah lawan yang terdekat dengan bola. Karena itu yang akan menjadi lawan berbahaya.” Jika kita dapat menjaga lawan yang terdekat dengan bola, maka kita telah mempersempit peluang gerakan lawan tersebut. Karena bagaimanapun tingginya akurasi seseorang dalam menendang bola jarak jauh, proses menendang dan menerima bola tersebut tidak selalu sama dan hal ini dapat dijadikan peluang untuk mengambil alih bola dari lawan. Dan salah satu cara andalan untuk mengambil alih penguasaan bola oleh lawan adalah pada saat lawan mengoper bola: peluang berhasil besar dan peluang terjadinya pelanggaran kecil.

Oleh karena itu saya berani mengataka bahwa mungkin saja tidak ada play maker Indonesia ketika melawan Oman tersebut. Karena serangan dari lapangan tengah sangat sedikit sekali. Namun saya tidak bisa memastikan ini kesalahan siapa. Sebab selain mencari pemain yang memiliki kemampuan yang super luar biasa itu sangat sulit, juga karena (lagi) saya tidak tahu konsep yang diterapkan oleh pelatih Timnas.

Selanjutnya kita bahas, bagaimana Timnas bisa kebobolan dua gol. Ini yang saya sedihkan dari dulu, sejak saya mengenal bagaiamana bermain dalam sepakbola setidaknya melalui pendidikan dasar dan pendalaman sepakbola. Yakni, ketidaktenangan Timnas dalam menghadapi serangan. Bahkan saya berpesepsi kondisi itu telah menjadi ciri khas Timnas: selalu tidak tenang dalam menerima serangan.

Buktinya adalah ketika Boas yang merupakan pemain penyerang telah turun ke lapangan belakang dan membantu pemain bertahan. Hal ini bukan mustahil dan tidak mungkin dilakukan oleh pemain menyerang. Namun demikian dapat juga disimpulkan ketika seorang pemain penyerang telah membantu pertahanan di lapangan belakang, itu artinya pemain bertahan membutuhkan bantuan untuk mengamankan daerah gawang.

Persoalan besar tercipta ketika penyerang turun ke daerah bertahan untuk membantu pemain belakang. Yaitu kekosongan daerah depan, dan jika pemain belakang tidak mampu mengelola bantuan ini, pemain tersebut bisa jadi bumerang bagi tim. Meski pemain penyerang tidak satu orang dan itu berarti ada pemain penyerang lainnya yang menjaga daerah depan, tapi ketika bola dapat dikuasai pemain belakang ketika hendak melakukan penyerangan pemain belakang yang menguasai bola tersebut akan kebingungan karena meilihat hanya satu orang pemain di depan dan itu tentu saja membuat peluang semakin kecil. Tapi, biasanya, daripada tidak ada peluang sama sekali dan keberadaan bola di daerah belakang yang selalu menjadi ancaman, maka pemain belakang tersebut senantiasa mengopernya ke depan. Lebih tepat kondisi ini disebut sebagai penyelamatan gawang daripada penyerangan. Walapun pemain penyerang pun belum yakin mampu menciptakan peluang namun setidaknya daerah bertahan telah aman dengan bola tidak lagi berada di daerah belakang.

Akan tetapi juga tidak dipungkiri, jika pemain depan tersebut dapat melakukan serangan seorang diri, peluang juga akan teripta karena lengahnya lawan saat itu. Keadaan ini sering disebut counter attack atau pematahan serangan. Namun untuk dapat melancarkan serangan untuk menciptakan gol melalui peluang ini butuh seorang pemain yang memiliki kecepatan tinggi dan skil individu dalam mendribel bola yang tangguh. Namun saya tekankan lagi, bahwa hal ini membuat peluang semakin kecil. Ini yang dilakukan Boas di sat menciptakan golnya itu.

Kembali ke pemain bertahan Timnas, saya melihat juga kurangnya komando. Charis, yang sebagai center back sekaligus kapten tim saya belum melihat kepemimpinannya. Terutama ketika terjadi pelanggaran yang menyebabkan ia mendapat kartu kuning. Selain itu sebagai pelanggaran yang tidak penting, saya menilai posisi Charis juga salah. Ia tidak seharusnya berada di sana sebab ada pemain bertahan lainnya atau back kiri, saat itu. Inilah yang harusnya ia komandoi. Intinya, saat itu harusnya Charis mudur dan kembali melindungi gawang dengan berdiri di depan kiper (tentu tidak menghalangi pandangan kiper) untuk melihat posisi lawan yang membahayakan.

Akibat ‘prosedur’ yang seperti ini yang semestinya dilakukan seorang center back, beberapa peluang dan gol dapat diciptakan Oman. Dua gol yang tercipta, saya melihat kalau Charis yang mencoba menghalangi pemain lawan yang berbahaya (dan yang menguasai bola) ketika itu. Padahal ketika itu, masih ada pemain bertahan lainnya, yang semestinya ia komandoi untuk menghadang pemain lawan tersebut. Namun, Charis lebih sering tampil sebagai pemain bertahan yang menghadang lawan bukan sebagai ‘komando’ pemain bertahan. Ketika pemain bertahan tidak memiliki komando, maka akan terjadi kekacauan, sebab pemain depan atau penyerang biasanya sangat lihai dalam mencari peluang dan iatu sangat merepotkan.

Kenapa saya selalu mengatakan menciptakan peluang bukan menciptakan gol? Karena antara menciptakan peluang dan menciptakan gol adalah dua hal yang berbeda. Gol hanya akan tercipta jika peluang ada dan sebaliknya gol tidak akan tercipta jika peluang tidak ada. Jadi dalam permainan sepakbola sebenarnya hanyalah bagaimana mencari dan menciptakan peluang. Lalu bagaimana dengan keberuntungan? Keberuntungan tetaplah menjadi keberuntungan yang tak akan pernah dapat diperhitungkan.

Tidak mungkin suatu tim mengandalkan keberuntungan, sebab kehadirannya tidak ada yang daoat memperhitungkannya. Namun bagi yang tidak percaya akan keberuntungan itu, tentu yakin bahwa sesuatu itu memiliki pola yang jelas namun terkadang kita yang tidak menyadarinya.

Terakhir, saya sebenarnya lebih berharap jika pemain kelompok umur yang dikutkan dalam pertandingan kualifikasi ataupun pertandingan yang mengatasnamakan Timnas. Misalnya kelompok umur 23, meski mereka kalah dalam Sea Games di Laos kemarin, namun saya lebih berprinsip: berilah kesempatan kepada yang lebih muda. Karena kesempatan mereka untuk salah dan kemduian memperbaikinya lebih besar daripada para pemain yang lebih senior. Bukan berarti pemain Timnas senior tidak memiliki kesempatan memperbaiki diri, namun, kondisi mereka telah bisa dikatakan di puncak kariernya, dan telah membela Timnas bertahun-tahun serta melanglang buana ke berbagai negara. Apa salahnya jika Timnas disii oleh para pemain dari kelompok umur tersebut. Dengan demikian kesempatan mereka berprestasi menjadi lebih lama dan masih ingin terus berprestasi belum terpengaruh apakah nanti ada klub yang akan membayar mahal mereka. Karena saya yakin, ketika mereka dipercayakan membela Timnas yang ‘sesungguhnya’ itu adalah prestasi yang luar biasa, dan ketika seseorang ingin mencapai dan sedang berada dalam prestasi tertingginya, maka orang itu pun akan menampilkan skill yang luar biasa. Psikologis dasar manusia saya rasa.

Dan satu lagi, setelah saya menyaksikan pertandingan ini di RCTI, selanjutanya saya menyaksikan beritanya di Metro TV dengan judul berita “Indonesia dipermalukan Oman”. Judul berita yang menyedihkan dan merendahkan bangsanya sendiri. Setidaknya ketika menyalahkan sesuatu kita juga memberikan solusi agar kesalahan itu tidak terjadi. Dan Metro TV tidak memberikannya. Dan tentu saya berharap agar tulisan ini jauh dari kesan seperti itu: kesan yang menjatuhkan bangsa saya sendiri.

Filed under: berita, curahan hati, , , , , , , ,

One Response

  1. Kerja Di Rumah mengatakan:

    Kekalahan yang terus dialami timnas indonesia memang membuat siapapun yang melihatnya merasa kecewa. Apalagi ketika itu terjadi di hadapan public sendiri. Makanya wajar jika terjadi luapan emosi yang berlebihan dari para fans fanatic timnas.

    Hal ini seharusnya menjadi pembelajaran bagi timnas Indonesia dan pihak-pihak yang terkait. Dimana dari masa ke masa kualitas timnas kita seolah semakin menurun dalam hal kualitas dan prestasi.
    Membuat Blog

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Photobucket

Kategori

Iklan

Adsense IndonesiaCO.CC:Free DomainCO.CC:Free DomainAdsense Indonesia

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 7 pengikut lainnya

My Profile

Romi Mardela merupakan seorang anak manusia yang terlahir sebagai anak yang selalu ingin belajar dan terus belajar (siapa juga yang tidak mau belajar, bung?)
....selengkapnya

Chat with me (id: romymardela)


yang lagi online

Aku Berpikir Maka Aku Ada

Kita mempunyai jumlah wak tu yang sama meskipun kemampuan yang kita miliki tidak sama. Tapi orang yang memanfaatkan waktu dengan lebih baik sering kali mengalahkan mereka yang punya kemampuan lebih banyak. (anonim)

Just follow me…

 

Profil Facebook Romi Mardela

Blog Stats

  • 65,085 hits
%d blogger menyukai ini: