tentang kita dan dunia

Ceritakan padaku sebuah mimpi

Dikira Orang Gila

mixed

mixed

Ini kejadian yang paling menyengsarakan, bukan pada waktu kejadian namun setelah beberapa lama sesudah kejadian saya dikira orang gila, itu.

Awalnya begini, setelah itu begitu, habis itu, ya habis deh. (just kidding). sebenarnanya waktu itu saya dan beberapa orang teman lainnya, pulang dari liputan liga divisi utama di Gor. Prof. Muh. Yamin, yang bertempat di Muaro Sijunjung Kabupaten Sawahlunto Sijunjung. Saat itu laga antara ‘Kabau Sirah’ Semen Padang dengan PSPS Pekanbaru.

Sedikit informasi, Kecamatan Muaro Sijunjung dan Koto IIV di kabupaten tersebut sudah sangat akrab dengan saya. Mkasudnya, sedikit banyak saya sudah kenal seluk beluk di daerah itu. Karena sekitar pertengahan tahun 2006, saya menjalani KKN alias Kuliah Kerja Nyata di daerah tersebut. Saat itu yang menjadi posko kami adalah di Nagari Batu Balang. Tujuh kilometer dari Muaro dan delapan kilometer dari Tanjung Ampalu. Nagari itu berada di antara kedua daerah tersebut.

Kami di sini adalah, saya dengan lima orang teman dari satu kampus UNP atau Universitas Negeri Padang (mantan/almamater) dan lima lagi dari UM (Universitas Negeri Malang). KKN yang saya ikuti saat itu merupakan program ‘uji kembali’ KKN untuk kampus saya itu, sementara untuk UM ini sudah jadi mata kuliah wajib mereka. Info: KKN adalah mata kuliah dengan 4 sks dari 160 sks yang paling saya senangi. Di sana saya belajar “bagaimana hidup”.

Kembali ke saat saya dianggap gila tadi. Saat itu kami baru saja sampai, dan turun dari mobil. Empat jam perjalanan tentu sangat melelahkan. Namun satu, yang menyengsarakan adalah kebelet. Sudah hampir dua jam saya tahan semenjak berhenti makan malam di Kota Solok, sekitar 30 km dari Kota Padang.

Jadi wajar saja, ketika sudah sampai di tempat tujuan, langsung saya berlari ke dala kantor PWI-yang merupakan tempat keberangkatan dan pemulangan kami. Di depan pintu saya melihat ada dua wanita (ibu dan anaknya) sedang asyik nonton tivi. Dengan mengetok pintu terlebih dulu, dan di Ibu yang duduk di sofa mengahadap ke tivi mengalihkan pandangannya ke pintu kaca yang saya ketuk tadi. Karena merasa mendapat respon dan PWI sudah jadi markas wartawan, jadi saya langsung membuka pintu yang tidak dikunci itu dan langsung masuk.

Eh, sialnya ketika dua langkah kaki saya berada di dalam ruangan, si Ibu. Menjadi gagu dan seperti orang bisu yang lagi panik. Aba…aba, baca dengan cara tidak menautkan bibir tapi tetap menganga. Benar khan seperti orang bisu. Saya lihat wajah si Ibu panik, dan terus saja melihat ke luar melalui pintu kaca itu. Tiba-tiba anaknya yang sebelumnya tidur di sofa dengan membelakangi saya juga ikut bertingkah seperti itu.

Wah, saya yang menangkap gelagat tidak baik. Langsung saja mendekat pintu. Jadi posisi saat itu, saya dan si Ibu sama-sama menuju ke sana. Kalau saya, saat itu berpikir ia phobia dengan orang yang tidak dikenal. Dan waktu itu memang kali pertamanya kami bertemu. Tentu saja saat itu pun saya mencoba untuk keluar lagi. Tak taunya, setelah si Ibu lebih lama melihat keluar, sekitar sepuluh kali berteriak tanpa suara begitu pula anaknya, si Ibu itu memanggil Peri, salah seorang wartawan yang saat itu masih ada di luar. Barulah si Ibu ini bisa bicara.

“Eh, Peri kironyo. Alah tibo,” ia cengingisan dan membuka pintu. Sambil menenangkan diri, ia bercerita dengan wartawan tersebut. Saya langsung saja menuju kamar mandi, karena ada suatu tugas yang sudah sangat mendesak. Dan akhirnya setelah ‘melepasnya’ barulah saya dapat mendengar dengan jelas apa yang mereka (si Ibu dengan anaknya) bicarakan. Bahkan mereka (tapi yang paling keras suaranya si Ibu itu) sambil tertawa keras.

“Ambo kecek ko sia tadi,” ia berbicara sambil terus tertawa. Saya belum mengerti apa yang ditertawakannya. Tapi yang jelas tertawanya sungguh tidak enak. “Wak sadang tamanuang, apolai tadi uda wak bapasan supayo mangunci pintu, karno ado urang gilo di lua. Awak kecek situ tadi urang gilo tu. Hahahahaha,”ia tertawa tak henti-hentinya bahkan sampai-sampai memencet-mencet perutnya, entah karena tertawa atau belum makan sejak pagi😦

Dan saya, yang menjadi korban ini, hanya bisa mesem-mesem sendiri. Malah ingin menghentikan tawa si Ibu itu. Sudah orang juga dibikin panik dan ditambah pula dikiraiin orang gila. Saya cepat-cepat saja pergi dari sana.

Pelajaran moral nomor 51: “Jangan masuk ke rumah orang atau di manapun sebelum dipersilakan,” (ya iyeslah)

Filed under: curahan hati, happy

One Response

  1. elldays mengatakan:

    fyi,solok padang tu 65 km bg,, ndak 30kmdo.. hehe..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Photobucket

Kategori

Iklan

Adsense IndonesiaCO.CC:Free DomainCO.CC:Free DomainAdsense Indonesia

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 7 pengikut lainnya

My Profile

Romi Mardela merupakan seorang anak manusia yang terlahir sebagai anak yang selalu ingin belajar dan terus belajar (siapa juga yang tidak mau belajar, bung?)
....selengkapnya

Chat with me (id: romymardela)


yang lagi online

Aku Berpikir Maka Aku Ada

Kita mempunyai jumlah wak tu yang sama meskipun kemampuan yang kita miliki tidak sama. Tapi orang yang memanfaatkan waktu dengan lebih baik sering kali mengalahkan mereka yang punya kemampuan lebih banyak. (anonim)

Just follow me…

 

Profil Facebook Romi Mardela

Klik tertinggi

  • Tak ada

Blog Stats

  • 65,121 hits
%d blogger menyukai ini: