tentang kita dan dunia

Ceritakan padaku sebuah mimpi

Masih Skripsi

harimau

Sulit menerima jika kita telah menyadari bahwa kita hidup harus bergantung kepada orang lain. Bikin sakit hati, sedih, dan semua hal buruk yang aku tahu (lagi nggak pengen ngitung hal-hal baik).

Masih tentang skripsi. Hari ini, pembimbing ku memberikan proposal penelitianku yang terlah direvisi sebelumnnya. Proposal yang aku berikan enam hari yang lewat, diberikan tadi pagi dengan sedikit koreksi di sana-sini. Setelah berdiskusi, tentang hal yang mesti kuperbaiki, aku pun kemudian bergegas mencari rental komputer. Kira-kira jam 12 kuperbaiki, proposal tersebut selesai diperbaiki. Proposal yang sebelumya hanya setebakl 25 halaman menjadi 48 halaman, itu selesai pukul 16.00 wib. Ups, bukan beararti aku bisa mengerhajakannya dengan cepat dan bukan pula skripsi itu hasil plagiat, namun karena aku telah memperbaikinya jauh hari sebelumya serta menambahkan beberapa teori penguat di BAB II.

Dengan senyum lebar aku mencoba mengembalikan sore itu, namun ternyata pembimibingku sudah pulang, maka misi diundur hingga malam hari. Sekitar pukul 20.00 wib aku menuju ke rumah pembimbing. Dengan wajah sumringah berharap mendapat pujian (hehehehe) dari dosen, hujan gerimis menuju lebat pun tak kuhiraukan. Perjalanan sekitar 7 km pun aku tempuh dengan bahagia.

Ya….ternyata setiba di rumah Bapk tersebut tiada di rumah. Langsung aku menuju rumah pembiming yang satunya yang (kebetulan atau memang sudah begitu adanya) hanya berjarak dua rumah di depan rumah pembimbingku yang satunya.

Tok…tok…tok… Assalamualaikum… aku berdiri di depan pintu menunggu ada orang yang aka menyahut dari dalam rumah. Sang istrinya ternyata menyahut.

SangIstri: ada keperluan apa?

Aku: ada Bapak, Buk?

Sang Istri: Tidak… Bapak ke Jambi… (sambil berjalan ke arah pintu, kemudian membukakan pintu yang terdiri dua lapis (hal itu terlihat karena kain jendela yang belum tertutup–tidak salah khan?)

Sambil berbasa-basi menanyakan kapan Bapak pulang, aku lalu menyodorkan proposal skripsi. Setelah, sk

ripsi itu diserahkan, aku kemudian berjalan keluar rumah dan Sang Istri itu pun menutup pintunya. (derita yang disemubunyikan–tidak untuk dikonsumsi umum karena sangat subjektif)
Berikutnya kembali ke dosen yang sebelumnya. Setelah dihubungi lewat posen, ternyata Bapak itu tengah beada di toko buku. Ups….pikiranku mencari halan lain…aku berpikir, tidak ada salahnya kalau aku kesana, mungkin sekalian mencari buku baru… atau sekalian ke tempat teman yang rumahnya tidak jauh dair sana…atau sekalian pulang ke rumah…pikiran tersebut terus berbayang, disaat motor terus melaju ke arah toko buku tersebut….

Hujan semakin bertambah deras. Pakaianku semakin basah. Motor masih saja melaju, menuju ke tempat dosen. Sebenarnya dosen tersebut sudah mengatakan agar besok saja ketemu di kampus, namun kupikir waktu 12 jam itu setidaknya bisa dimanfaatkan minimal satu jam saja untuk melihat proposal ku… karena itulah kubulatkan tekad untuk menemui Bapak tersebut, walaupun menempuh hujan yang terus saja bertambah deras. Lagipula dosenku yang satunya lagi, belum bisa dihubungi….

klimaks di parkiran dekat toko buku. Setelah menunggu di depan parkitan mobil Bapak tesebut, akhirnya adatang juga. Tak dinyana, aku merasa aku baru saja seperti disindir? Bapak tersebut langsung menanyakan halaman pengesahan untuk seminar proposal….Aku tak pernah mengerti, tapi aku hanya dapat berkesimpulan bahwa aku baru saja disindir…Tapi aku agak ragu untuk memastikannya, karena ekspresinya tidak berubah sama sekali….Jadi aku tidak tahu, apakah Bapak tesebut memang serius menyuruhku untuk seminar atau marah karena kudatangi disaat-saat sedang berkumpul dengan keluarga.

Disaat itu juga pikiranku berkecamuk….tak menentu….

Aku sadar mungkin aku salah kalau harus mengikutinya di saat sedang bersama-sama dengan keluarganya. Dan mungkin juga aku salah jika menganggap semua dosen itu dapat menerima mahasiswanya di luar jam perkuliahan. Dan mungkin pula aku salah jika tidak mendengarkan sarannya untuk menemuninya di kampus saja… Dan saat itu jg aku menyadari ketolollan diriku ini. Seperti anak kecil yang diambil mainannya, ia menangis. Tapi tidak aku, hanya perasaanku saja tak menentu sama seperti anak kecil yang tak tahu bagaiamana mengekspresikan dirinya selain menangis. Nah, ketika itu aku hanya bisa menghibur diri dengan berpikir bahwa tindakanku itu tidak salah. AKu butuh Bapak itu sebagai pembimbing dan dia sebagai pembimbing tentunya harus membimbing mahasiswanya. Lah, aku salah lagi. ternyata memang, malam hari bukanlah waktu kuliah, itu adalah waktu untuk istirahat.

Sekarang apa lacur. nasi jadi bubur pun harus tetap dimakan. Mungkin saja dengan menambahkan sedikit gula atau bajkan garam. Begitupula dengan diriku. Namun aku juga sangat heran, pada saat itu aku hanya bisa memberikan proposal dan tak berkata hal lainnya lagi. Rencana untuk minta maaf telah menganggu waktunya urung kuucapkan. Begitu pula hal penting lainnya, mengenai kelajutan proposalku nantinya… Uhff…. inilah hal yang paling tak dapat kumengerti….

Jika ada pihak dari keluarga kedua pembimbingku atau pun bahkan pembimbingku sendiri…aku mohon maaf yang sebesar-besarnya dengan apa yang aku tulis sebelumnya. Saat ini, hanya melalui blog ini tempatku bercerita. Namun percayalah pak, tidak ada satpun maksud hatiku untuk menjelek-jelekkan Bapak. Melainkan aku berharap dengan adanya tulisan ini, aku dapat terus belajar. Terus belajar memahami orang lain. Bahwa, sebanyak kita ingin memikirkan diri kita sendiri, maka sebanyak itu pulalah kita harus memikirkan orang lain. Dan persoalan kenapa begitu mendesaknya aku menyerahkan propsal tesbeut, tak lain dan tak bukan hanya karena, jadwal kompre yang hanya beberapa inchi saha di depan mataku….

Terima kasih atas segalanya… Atas jasa yang telah Bapak berikan, tak akan kulupakan seumur hidupku…

dan ilmu yang aku dapatkan dari Bapak-Bapak dapat berguna untuk kemaslahatan serta peningkatan kecerdasan generasi berkutnya….

Filed under: Uncategorized

One Response

  1. elldays mengatakan:

    hahahahaha………
    la udah denger cerita ini secara langsung,,,

    tapitulisan ini sama sekali tidakmemojokkan bapaktu kok bg

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Photobucket

Kategori

Iklan

Adsense IndonesiaCO.CC:Free DomainCO.CC:Free DomainAdsense Indonesia

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 7 pengikut lainnya

My Profile

Romi Mardela merupakan seorang anak manusia yang terlahir sebagai anak yang selalu ingin belajar dan terus belajar (siapa juga yang tidak mau belajar, bung?)
....selengkapnya

Chat with me (id: romymardela)


yang lagi online

Aku Berpikir Maka Aku Ada

Kita mempunyai jumlah wak tu yang sama meskipun kemampuan yang kita miliki tidak sama. Tapi orang yang memanfaatkan waktu dengan lebih baik sering kali mengalahkan mereka yang punya kemampuan lebih banyak. (anonim)

Just follow me…

 

Profil Facebook Romi Mardela

Klik tertinggi

  • Tak ada

Blog Stats

  • 65,121 hits
%d blogger menyukai ini: