tentang kita dan dunia

Ceritakan padaku sebuah mimpi

Organisasi

Surat Kabar Kampus Ganto (SKK Ganto).
AKu tak pernah menyangka, Ganto dapat mengubah hidupku selamanya. Kenapa harus selamanya. Karena bagiku Ganto ini dapat mengubah cara pandangku yang berarti, cara pandangku dalam menjalani segala sesuatu selama aku hidup. (Aku ceritakan di posting berikut).
oke, sebelum aku lebih jauh bercerita tentang diriku, baiknya aku menceritakan terlebih dulu apa itu Ganto, yang mampu mengubah hidup seseorang.

Terlalu mendramatisir mungkin, tapi memang begitu kenyataan yang telah aku alami. Ganto, hanyalah sebuah penerbitan koran kampus yang dikelola oleh mahasiswa secara semi profesional. Perbedaan Ganto dengan pers umum lainnya, hanyalah pada persoalan pengelolaan sumber dana. Pada penerbitan koran umum pastinya bernaung di bawah perusahaan. Tapi di Ganto, kami bernaung di bawah universitas, namun bukan berarti Ganto memakai uang rektorat. Hanya saja, Ganto memakai uang mahasiswa baru yang pengurusannya mesti melewati rektorat.
Perbedaan lainnya, terletak pada panggilan. Untuk menyebut siapa kami, biasanya memakai “wartawan kampus” atau “pers mahasiswa”. Namun bukan berarti itu membuat kami menjadi lebih kecil, dan sebaliknya hal itu menjadi kebanggaan yang sangat besar. Apalagi ketika harus bersaing berita dengan wartawan harian umum ataupun wartawan lainnya.
Selain dua hal di atas, selebihnya antara wartawan umum dengan wartawan kampus memiliki kesamaan.
Ups…ternyata ada yang terlupa. Perbedaan antara pers mahasiswa dengan pers umum adalah pada aspek hukumnya. Ini telah menjadi tugas besar yang saya rasa, sejak dulu kala, sudah juga diperjuangkan. Pers mahasiswa tidak memiliki kepastian hukum layaknya seorang pers umum. Padahal untuk risiko pekerjaan yang kami hadapi bisa sama besar.

Nah, selama ini saya hanya mengambil kesimpulan bahwa pers mahasiswa tidak diberi perlindungan karena persma bukanlah sebuah profesi.
Benar demikian adanya, namun bukanlah suatu alasan yang tidak harus dicarikan jalan keluar yang lain.
Menurut hemat saya, bisa saja persma tersebut dinaungi langsung dibawah oraganisasi wartawan yang legal. Karena saya pikir akan menjadi lebih rumit jika pembahasan persma harus masuk ke ruang rapat anggota dewan ataupun rapat tingkat menteri. Apalagi mereka sudah terlalu banyak tugas yang saya kira juga cukup pelik sampai-sampai sulit diselesaikan.
Dengan persma langsung bernaung di bawah oraganisasi wartawan yang mapan, diharapkan ada sebuah perhatian mengenai profesi kewartawanan mahasiswa.

Pertanyaan sekarang, seberapa pentingkah persma mendapat naungan ataupun perlindungan?
Seperti yang saya tulis di atas, hanya ada tiga perbedaan antara pers umum dengan persma. Berarti selebihnya, apa yang dikerjakan wartawan juga dikerjakan persma. Sehingga bisa didapatlah kesimpulan seperti ini: kenapa wartawan harus memiliki aturan tersendiri? Ya, begitu pula halnya dengan persma. Kurang percaya persma juga mengalami hal-hal yang sama dengan pers umum, ini masih ada bukti lainnya.

Bukankah persma merupakan cikal bakal profesi pers umum?
Namun meski hanya semacam oraganisasi mahasiswa lainnya, tapi Ganto memberikan hal yang berbeda. Ia (Ganto) tidak hanya memberikan apa yang kita inginkan tapi juga apa yang tidak kita inginkan.

 

 

Filed under: Uncategorized

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Photobucket

Kategori

Iklan

Adsense IndonesiaCO.CC:Free DomainCO.CC:Free DomainAdsense Indonesia

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 7 pengikut lainnya

My Profile

Romi Mardela merupakan seorang anak manusia yang terlahir sebagai anak yang selalu ingin belajar dan terus belajar (siapa juga yang tidak mau belajar, bung?)
....selengkapnya

Chat with me (id: romymardela)


yang lagi online

Aku Berpikir Maka Aku Ada

Kita mempunyai jumlah wak tu yang sama meskipun kemampuan yang kita miliki tidak sama. Tapi orang yang memanfaatkan waktu dengan lebih baik sering kali mengalahkan mereka yang punya kemampuan lebih banyak. (anonim)

Just follow me…

 

Profil Facebook Romi Mardela

Blog Stats

  • 65,085 hits
%d blogger menyukai ini: