Ya Allah, ya Tuhanku
Cukuplah aku merasakan kuasamu. Saat ini aku hanya ingin tahu sudah sejauh apa aku belajar setelah merasakan.
Orang yang mengulangi kesalahan serupa, apakah bisa dikatakan tidak pernah belajar? Lantas, apa gunanya maaf?
Aku begitu merindukan rumah. Aku begitu merindu pulang. Hati menjerit, ketika setiap kali kehilangan rumah-rumahku. Tahukah kau kawan, ternyata tidak terlalu menyenangkan mempunyai banyak rumah.
Punya banyak rumah, berarti punya banyak pelarian. Dan itu, berarti, tidak pernah ingin menuntaskan apapun dari satu masalah yang timbul dari satu rumah.
Insting dasar manusia: selalu ingin merasa nyaman dan bebas, tak selalu dapat diaplikasikan. Pasti selalu ada cara lain, yang mesti juga kita jalankan. Ibarat sebuah pementesan, kita juga harus dapat memahami peran lainnya. Bahkan, terkadang berperan sebagai orang lain. Topeng.
Rumah, adalah sebuah istana. Tapi, istana bukan selalu berarti sebuah rumah. Apa yang diinginkan manusia, jika bukan rumah? Bahagia dan Kaya.
Lantas, dimana perjuangan tinggal? Menetap dan menggelora? Ketika sebuah kenyaman dari kebahagian lebih besar, di saat itu perjuangan tidak berarti apa-apa. Dan tentu saja, ketika kebahagian dari jiwa yang kecil itu mulai pudar, semua sel di tubuh meneriakkan perjuangan. Pengecut.
Terkadang sebuah pertanyaan melahirkan pertanyaan lainnya. Tapi sebuah pertanyaan, tidak akan selalu dapat melahirkan jawaban. Sama ketika pertanyaan seperti ini: kenapa saya tidak bertanya? Pekerjaan yang sia-sia.
Hari ini aku hanya ingin berkata, bahwa ada manusia indah di sana, yang sekarang telah setia menantiku. Apalagi yang kucari, ketika ‘kurasa’ dia telah kutemukan. Aku hanya perlu merajut asa dan terus menggapai mimpi. Sampai kapan? Sampai pada saat aku memulainya kembali. Setia dan Bertanggungjawab.
Sekarang aku ingat akan dua kata terakhir: Setia dan Bertanggungjawab. Siapa yang bisa menjaga rumah, itu? Hanya orang setia yang mampu. Siapa yang membangun rumah, itu? Hanya orang yang bertanggungjawab yang terus membangunnya.
Dimana akan dicari orang yang memiliki keduanya? Lelaki dan Wanita, jawabnya. Insan yang memang telah ditakdirkan bersama berarti tak mampu dipisahkan. Tidak hari ini, esok di sana mungkin saja akan bersama lagi. Selamanya dalam keabadian itu. Apa yang kuharap lagi, ketika sudah mengetahui hal itu? Hanya mencoba berjalan bersamanya, hingga aku menemui akhirku.
Filed under: curahan hati , sesekali aku ingin berkata tak tahu!!!

milik qt adalh apa yang ada detik ini.
meleburlah bersma detik yang menyapa. stlah dtik ini b’lalu, tak ada yang tahu apa yang akan t’jdi….
rumahmu tempat malaikatmu dan harapanmu
Bersemangatla, Bang… Nanti, Insya Allah bang akan menemukan istana terindah… ^_^