“Bahkan bermain dengan 13 orang pun Indonesia juga tidak mampu menang.” Ini stensilan dari temanku setelah menyaksikan kualifikasi piala Asia, antara Indonesia melawan Oman, di Stadion Gelora Bung Karno Rabu (6/1) melalui televisi, di mana Indonesia harus menelan kekalahan 2-1.
Saya hanya akan memberikan beberapa catatan tentang pertandingan Timnas Indonesia kali ini. Selain, tidak terlalu mendalami konsep yang diterapkan Benny Dolo (Bendol) pelatih Timnas, komposisi pemain yang diterjunkan pun saya juga tidak terlalu mengenalnya.
Namun, meski demikian, bukan berarti saya hanya akan membual dan mencaci saja. Tapi, dari keinginan saya untuk menulis tulisan ini, jelas bahwa saya ingin memberikan sesuatu yang terbaik untuk Timnas, untuk Indonesiaku. Setidaknya, dengan menyampaikan opini tentang kondisi tim. Meski tidak akan didengarkan ataupun mengubah sesuatu, saya sudah mendokumentasikan batu-batu kecil perjuangan Timnas untuk dapat menjadi sebuah onggokan batu besar, dan mungkin saja akan menjadi sebuah gunung yang suatu saat nanti akan bermanfaat.
Kita sudahi mukadimah, kita lanjutkan ke analisis pribadi saya sebagai seorang mahasiswa Olahraga yang pernah mencicipi pendidikan dasar sepakbola sampai tahap pendalaman. Yang artinya harus diikuti karena menjadi syarat standar kelulusan untuk jurusan saya.
Saya akan membahas permainan Timnas kali ini dimulai dari akhir pertandingan, seperti saya memulai catatan ini. “Pemain tambahan” yang masuk menjelang berakhirnya waktu, saya anggap sebagai bonus atas kejengkelan penonton yang juga telah mempresentasikan kejengkelan saya pribadi.
Jika Anda berminat untuk membaca tulisan ini silakan lanjutkan. Namun jika Anda ragu-ragu silakan tinggalkan, karena tulisan ini memaparkan ulasan yang panjang tentang PSSI. So, it’s up to u gals… Read the rest of this entry »
Filed under: berita, curahan hati , Hendrik mulyadi, Indonesia lawan Oman, kekalahan, program latihan, PSSI, sepakbola, suporter fanatik, Timnas
usul-usil (boleh aja)